Cerita Liburan Lebaran Tahun 2010

Seperti cerita kisah klasik yang menyebutkan manusia juga makhluk biasa adalah benar begitu halnya dengan seorang mahasiswa, semuanya butuh ketenangan dan liburan untuk mengurangi kejenuhan, menurut saya itulah alasan sebenarnya semua jenis liburan, termasuk liburan lebaran tahun ini.

Seperti lebaran-lebaran sebelumnya tidak begitu banyak perbedaan dari tahun ke tahun pada umumnya. Namun bagi saya tahun ini ada sedikit perbedaan tempat merayakannya, jika tahun pertama di IPB atau masaTingkat Persiapan Bersama (TPB) dan dan tingkat kedua di IPB saya tidak ada rezeki untuk pulang, namun tahun ini alhamdulilah saya merayakan lebaran di kampung juga setelah dua tahun lebaran berturut-turut tidak pulang. Sedih memang waktu itu dikala orang berbagi canda dalam cerita, tertawa bersama kelurga dan kerabat tetangga, saling berbagi kebahagian dan saling berjabat tangan dengan semua sanak saudara yang di kampung maupun yang datang dari perantauan merayakan lebaran di hari nan fitri. Namun saya di perantauan tidak demikian indahnya, hanya berdua di kost-an dengan seorang penjaga kost duduk terdiam, bisu tanpa kata-kata hanya merenung tanpa hidangan ketika terdengar suara takbiran yang menambah kerinduan akan kampung halaman, itulah nasib anak perantau yang jauh dari kampung halaman, namun disitulah cerita indahnya kawan.

Saya memang berasal dari kampung yang agak jauh dari Bogor Dramaga ini tepatnya di desa Sihepeng kecamatan Siabu kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Butuh tiga hari untuk sampai kesana lewat darat, jadi sangat rugi jika liburan hanya satu atau dua minggu tak lain untuk pulang hanya menghabiskan liburan dijalanan atau lebaran yang terlewatkan dijalanan.

Begitu tiba di kampung saya tentunya di sambut hangat keluarga yang sangat saya rindu disetiap waktu. Meski hanya beberapa tahun tidak berjumpa namun rasa ingin berkumpul dengan semua keluarga bergitu tinggi, terlebih dengan dua kakak saya yang sudah empat tahun tidak jumpa hanya canda lewat suara telpon dihari-hari liburan yang ada. Tepat jam 23.00 WIB 5 september 2010 saya sampai di rumah, injakkan kaki dirumah lama dinanti. Sesampainya di rumah tidak langsung istirahat meski sehabis pejalanan yang melelahkan, semua seakan hilang tanpa lelah ketika kumpul bercerita dengan kakak dan ibu saya seperti dulu masa-masa SMA yang sering menghabiskan malam dengan cerita lucu penuh nasehat dari ibu saya. Malam itu begitu indah terlebih tidur disamping ibu. Lebih empat tahun memang kami tidak pernah ngumpul seperti ini. Hanya sukur yang tersirat dibenakku saat itu seperti kata Allah Nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu ingkari.

Ditahun ini tidak begitu banyak waktu untuk bermain, karna memang tempat yang bagus dan dikelola tidak banyak dikampungku. Saya lebih banyak silaturahim kerumah teman, sahabat, guru dan sanak saudara berbagi cerita. Kebetulan tahun ini teman smp saya banyak yang pulang dari perantauan. Dari segi watak tidak banyak berbeda seperti cerita-cerita dan kebiasaan dulu masa-masa smp. Namun dari segi fisik jelas berbeda sudah seperti bapak-bapak yang sudah siap nikah, hehe… memang sebagian temen saya sudah banyak yang berkelurga dan hampir 80 % dari temen perempuan yang duluan menikah dan bahkan sebagian sudah punya anak (diriku selalu tertinggal untuk yg satu ini, namun tak apalah begini adanya) Namun ada juga yang hanya bertahan satu hari kemudaian cerai, sedih memang mendengarnya namun itulah ceritnya. Biarlah jadi pelajaran bagi kita yang akan menjalaninya.

Ada satu cerita lucu, mungkin lucu bagi saya namun tidak bagi anda yang membaca . Ketika berkumpul dengan teman lama smp dulu. Saling berbagi kisah canda dan harapannya masing-masing. Selain itu saling bercerita kabar temen yang lain yang tidak bisa kumpul karna tidak pulang lebaran tahun ini, ditengah pembicaraan si Pak Be tiba-tiba datang, dia teman satu kelas smp saya dulu. Anaknya memang terkenal nakal namun hatinya baik. Pak Be begitu panggilannya. Tidak banyak berubah dengan anak itu, jailin orang adalah makanan favoritnya persis seperti yang dulu-dulu. “ Gimana kabar si Rustam “ Tanya Pak Be menyela… “Rustam yang mana” begitu jawab kami semua, berpikir sejenak mengingat nama yang satu ini, “ko persaan ga’ ada ya.. “ gumam temen yang lain. “Ada.. yang itu lho, yang suka setengah tiang sama si rani, cewek paling cantik di kelas VII A dulu.. masa ndak ingat ?..” tiba tiba kami ingat si Barat, anaknya si Rustam yang barusan ditanya Pak Be, spontan kami semua tertawa ngakak.. emang anak yang satu ini lebih ingat nama bapaknya dari pada anaknya. Itu memang kebisaan kecil dulu jika ada yang bilang nama orang tua, di anggap suatu penghinaan. Namun bagi Pak Be membuat orang marah adalah kesukaannya. Namun itulah indahnya punya temen yang nakal selalu buat bahan tertawaan, jika ga ad mereka ga’ asyik, ga’ rame… saya jadi ingat doa seorang pencuri yang menginginkan anaknya jadi anak yang soleh tidak seperti bapaknya yang hanya mencuri tdi setiap harinya, sejahat-jahat orang pasti ada sisi baiknya. Pak Be contohnya, menebar senyum saja adalah ibadah apalagi membuat orang tertawa sungguh amat mulia (umar, 2010)

Trims

Comments

Asalamu’alaikum

salam kenal..

Comments